ADVETORIAL

DPRD kabupaten Serang Air Bersih dan pencemaran Ciujung Jadi keluhan warga

SERANG, obornewsbanten.com – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Serang, Abdul Gofur, menyampaikan hasil reses yang digelar pekan lalu di wilayah MWC Tirtayasa, Carenang, hingga Tanara. Ratusan aspirasi masyarakat diserap langsung dari warga, mulai dari infrastruktur dasar, air bersih, pengelolaan sampah, penerangan jalan umum (PJU) yang mati, hingga pencemaran Sungai Ciujung yang dinilai sudah sangat mengkhawatirkan. Selasa (3/11/2026)

Dari seluruh aspirasi tersebut, dua isu paling mendesak adalah krisis air bersih dan pencemaran Sungai Ciujung.

Masyarakat di wilayah Tirtayasa, Carenang, hingga Tanara mengeluhkan sulitnya mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Ironisnya, di tengah kondisi kekeringan itu, Sungai Ciujung yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru tercemar dan kondisinya terus memburuk.

“Ini adalah kezaliman terhadap masyarakat ketika orang sedang kekeringan air, tapi sungai kita justru menjadi tercemar,” ujar Gofur.

Politisi Fraksi PKB itu menegaskan, masyarakat merasa prihatin karena sungai yang selama ini menjadi tumpuan hidup kini tidak lagi bisa diandalkan. Karena itu, penanganan Sungai Ciujung menjadi prioritas utama yang akan didorong DPRD kepada Pemerintah Kabupaten Serang.

“Kita tidak bisa membiarkan warga kekeringan sementara sungainya rusak. Ini harus segera ditangani, dicari sumber pencemarnya, dan dipulihkan,” tegasnya.

Selain air bersih, keluhan utama lainnya adalah PJU yang mati di banyak titik. Warga menyebut lampu jalan sudah lama tidak menyala namun belum mendapat penanganan serius. Di Sepanjang jalan Kibin–Carenang

Keluhan serupa disampaikan warga Desa Teras, di mana beberapa titik PJU juga mati total. Persoalan PJU ini ternyata tidak hanya terjadi di satu dapil, tetapi juga dialami di dapil lain dan diduga berkaitan dengan sistem pembayaran menggunakan token listrik.

Gofur menegaskan, persoalan PJU adalah pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan pemerintah daerah bersama PLN dan Dinas Perhubungan, karena menyangkut keselamatan dan keamanan warga di malam hari.

“Jalan gelap itu rawan kecelakaan dan rawan kejahatan. Jangan tunggu ada korban baru ditangani,” ujarnya.

Menjelang pergantian dari musim kemarau ke musim tanam, masyarakat juga menyampaikan kecemasan terkait ketersediaan dan pemerataan pupuk serta benih pertanian.

Warga berharap sistem pendistribusian dapat lebih transparan dan merata, agar tidak ada petani yang kesulitan mendapatkan kebutuhan pertanian saat musim tanam tiba. Aspirasi ini disampaikan warga se-Kecamatan Carenang, termasuk Desa Walikukun dan Desa Mekarsari.

“Masyarakat galau bagaimana sistem pembagian pupuk secara merata. Benih juga dikeluhkan, apakah sistem pembagiannya tetap seperti dulu atau menggunakan pola yang baru?” ucap Gofur.

Menurutnya, ketidakpastian distribusi pupuk dan benih harus segera dijawab pemerintah daerah, agar petani bisa mempersiapkan musim tanam dengan tenang.

Gofur menjelaskan, dari berbagai aspirasi yang masuk, sebagian langsung disampaikan kepada kepala dinas terkait untuk segera ditindaklanjuti. Sementara sebagian lainnya dicatat dan dijadikan rekomendasi resmi untuk dimasukkan dalam penyusunan APBD Tahun 2027.

“Aspirasi ini adalah suara rakyat yang harus kita perjuangkan. Tidak ada yang boleh terabaikan. Baik itu air bersih yang layak, jalan yang terang, sungai yang bersih, maupun pupuk yang sampai ke tangan petani. Semua itu hak warga Kabupaten Serang,” tandasnya.

Melalui reses ini, DPRD Kabupaten Serang berkomitmen terus mengawal setiap aspirasi hingga benar-benar terealisasi dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. (Advetorial)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *